Viralnya berita mengenai kecelakan study tour yang diadakan oleh pihak sekolah, memberikan dampak signifikan atas kinerja guru. Apalagi, banyak pro dan kontra mengenai hal tersebut. Tidak jarang, akan ada dua kubu yang saling serang dan membenarkan opini masing-masing.

Dimulai dari kasus study tour keluar kota yang diwajibkan oleh pihak sekolah, pergi atau tidak, murid harus membayar uang iuran. Banyak orang tua yang mengeluhkan hal tersebut karena masalah ekonomi, ada juga murid yang harus bekerja sepulang sekolah untuk mencukupkan uang iuran yang kurang. Tentu mau tidak mau, murid yang tidak ingin pergi, harus pergi daripada uang mereka terbuang sia-sia.

Pergi study tour pun tidak beberapa guru yang pergi, tapi hampir semua guru. Mereka memesan dua bus, satu bus khusus guru, sedangkan satu bus khusus murid. Lalu, di sinilah pro-kontra terjadi.

Banyak pihak yang menyalahkan guru, menganggap guru mengambil untung dari iuran murid-murid yang pergi. Para guru menggunakan bus yang bagus, sedangkan murid menggunakan bus kurang bagus sehingga menyebabkan kejadian naas yakni kecelakaan yang menyebabkan beberapa orang terluka parah dan ada yang meninggal dunia.

Akibat kasus tersebut, Inet alias Indonesia Netizen (Netizen Indonesia) naik pitan dan meminta orang tua murid yang menjadi korban, menuntun pihak sekolah. Ketikan hujatan pun dilemparkan kepada semua guru, padahal tidak semua guru terlibat.

Dari kasus tersebut, tentu bisa diambil kesimpulan, jika ingin mengadakan study tour, perkirakan dengan matang mengenai dampak baik dan buruknya. Tidak perlu semua guru pergi jika tidak diperlukan alias pilih dan pilah guru yang diperlukan saat perjalanan tersebut agar satu bus dengan murid, untuk memantau murid (apakah ada yang muntah, tidak enak badan, atau berselisih paham). Lalu, pihak sekolah tidak boleh mengharuskan semua murid membayar iuran. Bagus bagi orang tua murid yang mampu, bagaimana dengan kehidupan ekonomi yang pas-pasan dan hanya bisa untuk makan sehari-hari saja?

“Kenangan sekali setahun, tidak perlu pelit-pelit?!”

Iya, memang benar study tour atau acara perpisahan dilakukan sekali setahun dengan momen yang berbeda. Akan tetapi, memaksakan kesenangan beberapa pihak kepada orang lain, tentu tidak boleh, bukan? Jangan sampai karena kesenangan yang didapat dari memeras orang tidak ada uang, menjadikan malapetaka di kemudian hari. Toh, tidak satu dua kali bus study tour yang mengalami kecelakan, hampir tiap tahun. Bahkan, sudah ada petisi mengenai penghentian acara tidak bermanfaat.

Bagian paling tidak menyenangkan. Satu oknum yang melakukan hal seperti, semua guru yang terkena imbas. Guru A yang berbuat salah, semua guru yang mendapat getah, bahkan banyak yang merendahkan profesi guru, seakan-akan guru adalah orang hina yang mencari keuntungan dari murid mereka untuk pergi berlibur gratis.

Dari kasus tersebut, anggap saja acara perpisahan. Jika ingin dilakukan, lakukanlah di sekolah, seperti berdoa bersama, menampilkan bakat dan seni. Lalu, beri murid-murid motivasi yang membangun semangat mereka. Dan juga, uang yang mereka iurkan, tentu bisa mereka gunakan untuk ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Di zaman serba canggih dan berpengetahuan luas, apalagi semua informasi bisa diakses melalui ponsel, rasanya study tour tidak diperlukan, kecuali memang diperlukan untuk informasi penting. Mengapa? Karena murid-murid bisa mengakses tempat-tempat yang ingin mereka kunjungi dari ponsel mereka sendiri. Jika pun ingin berlibur, bawa serta saja murid yang ingin pergi tanpa harus melibatkan semua pihak.

Indonesia, Mei 2024

Yui
Penulis dan Pengarang

    Mengenal Baret Pada TNI

    Previous article

    UKM PRAMUKA POLITEKNIK PERTANIAN NEGERI PAYAKUMBUH : Membangun Kreatifitas dan Kepemimpinan Generasi Z, Melalui Gerakan Pramuka untuk Mempersiapkan Generasi Emas, Menuju Indonesia EMAS 2045

    Next article

    You may also like

    Comments

    Leave a reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *