EdukasiKonten KreatifOpini

Melawan Lewat Tulisan : Minke, Sang Pembuka Jalan

Oleh : Onriza Putra (Duta Damai Sumatera Barat)

0

“Tau kau mengapa aku sayangi kamu lebih dari siapapun? Karena kau menulis” – Nyai Ontosoroh

Hadirnya Minke dalam jagat perfilman Indonesia melalui Film Bumi Manusia membuat banyak yg bertanya-tanya siapa sebenarnya tokoh tersebut dan dalam kaitan apa sehingga layak untuk diangkat ke layar kaca. Film berdurasi 3 jam garapan Hanung Bramantio ini menjadikan Minke “hadir” di tengah masyarakat yang tidak familiar sebelumnya.

Penulis mencoba untuk “mengulas” Minke dalam rangka Hari Pers Nasional yang dirayakan pada tanggal 9 Februari tiap tahunnya.

Minke adalah tokoh utama dalam Tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Untuk diketahui, Pram menulis novel ini dalam kamp kerja paksa tanpa proses hukum pengadilan di Pulau Buru. Tetralogi ini merupakan empat serial, yaitu Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah dan Rumah Kaca. Keseluruhan novel mengambil latar awal abad ke-20 atau masa penjajahan. Pram mengajak kita hadir dan turut serta mengawal pergerakan Minke dalam melawan kesewenang-wenangan pemerintah kolonial.

Roman pertama, Bumi Manusia, bisa dikatakan periode awal kegelisahan tokoh Minke, roman kedua Anak Semua Bangsa, adalah periode observasi dan melihat langsung kehidupan pribumi yang terjajah. Roman ketiga, Jejak Langkah adalah masa mengorganisasikan perlawanan.

Pada roman ketiga ini lah Minke berupaya melawan kekuatan kolonial dengan kekuatan jurnalistik. Minke tidak memilih perlawanan melalui jalan senjata, melainkan mendidik masyarakat dengan bacaan-bacaan melalui koran Medan Prijaji.

Tanpa bermaksud membesar-besarkan, banyak kalangan menilai Minke membangkitkan nasionalisme awal-awal melalui perpaduan jurnalistik dan organisasi. Perlawanan Minke bukanlah perlawanan yang menggunakan kekerasan, melainkan perjuangan secara intelektual.

Minke bukanlah tokoh rekaan yang hanya ada dalam imajinasi Pram, dia adalah RM Tirto Adi Suryo. Tirto adalah keturunan bangsawan yang menanggalkan kemapanan demi idealisme yang dianutnya. Dalam sejarahnya, Tirto mendirikan Sarekat Prijaji yang lebih dulu dari Boedi Oetomo yang dianggap organisasi pribumi pertama. Bahkan, Tirto terlibat dalam pendirian Sarekat Dagang Islam.

Baik Minke maupun Tirto, layak kita kenang sebagai individu pejuang yang melakukan perlawanan melalui tulisan dan organisasi. Melalui tokoh ini, pers berbahasa melayu pertama membuana di Hindia Belanda dan menjadi corong utama perlawanan terhadap pemerintah kolonial.

Bagi Pram, Tirto adalah “manusia pemula” di Indonesia, pelopor dan berjuang dengan pedang jurnalistik, organisator dan motor perlawanan terbesar pertama melawan kolonial.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang didalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalab bekerja untuk keabadian” – Pram

Selamat Hari Pers

ditulis oleh : Onriza Putra

gambar oleh : tikayulia ismed

Post- truth Di Tengah SKB 3 Menteri Di Sumbar

Previous article

Hari Pers Nasional 2021, Sejarah Berawal Dari Padang

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi