Edukasi

Kenapa Indonesia Beragam

0

Satu pertanyaan yang sering muncul di benak bangsa indonesia, Kenapa kita ditakdirkan oleh tuhan terdiri dari banyak budaya,suku dan ras serta agama. Kenapa indonesia tidak seperti bangsa Eropa yang hanya punya 1 atau dua perbedaan dari segi suku,budaya dan agama? Bukankah dengan hanya sedikit perbedaan kita akan lebih cepat maju seperti negara maju lainnya di belahan bumi ini.

Benar, dengan sedikit perbedaan suatu negara akan jauh lebih cepat maju dari negara lain karena pergesekan karena perbedaan latar belakang akan lebih gampang untuk di hindari atau di kendalikan. Satu pertanyaan yang bisa membalikkan hal tersebut adalah apakah dengan lika-liku hidup yang dengan sedikit perbedaan hidup ini akan lebih berarti dan mengasikkan, jawabannya bisa di pastikan hidup akan lebih terasa membosankan.

Satu takdir yang harus diterima oleh bangsa ini adalah akan sangat susah membangun bangsa ini, akan penuh ujian bagi bangsa ini untuk menjadi negara yang maju, akan penuh tantangan bagi bangsa ini untuk bersaing dengan bangsa lain namun yakinlah jika setiap pemuda di negeri ini mencintai sedikit saja tanah tumpah darahnya negara ini akan sangat mudah melewati tantangan tersebut.

Kenapa harus pemuda/pemudi? Karena merekalah yang akan menentukan arah bangsa ini 5-20 tahun yang akan datang jika banyak saat ini politikus yang tidak hanya vokal namun juga berbuat nyata untuk negeri ini bisa di pastikan mereka adalah para aktivis yang ikut dalam reformasi tahun 1998. Jika banyak politikus yang hanya vokal namun tidak bisa berbuat nyata bisa di pastikan mereka adalah bagian dari kisah kelam politik orde baru di negeri ini.

Reformasi adalah awal babak baru bagi bangsa indonesia menata kembali politik dan ekonomi bangsa indonesia yang sebelumnya telah dirusak oleh orde baru yang haus akan kekuasaan. Reformasi adalah awal baru bagi bangsa indonesia untuk bersuara lantang dalam membangun bangsa ini tidak hanya lewat kancah politik tapi juga lewat media.

Tantangan Reformasi

Reformasi tidak hanya menawarkan jalan keluar bagi bangsa ini namun juga menciptakan tantangan baru bagi bangsa ini. Kemerdekaan harus di isi dengan semangat mencintai negeri ini dengan berbuat hanya untuk negeri ini. Lalu reformasi bagaimana cara mengisinya?

Reformasi di indonesia bukan hanya sekedar melengserkan presiden Soeharto pada waktu itu namun juga identik dengan perubahan pada kebebasan bersuara dan berpendapat di depan umum. Seiring berjalannya dan berkembangnya teknologi kebebasan berpendapat ternyata harus melalui koridor yang benar yang tidak bertentangan dengan hukum yang ada.

Setiap orang bebas berpendapat namun tidak ada kata-kata yang merendahkan derajat dan harkat orang lain. Seseorang berhak bersuara lantang di depan umum namun sangat dilarang untuk menghina agama lain. Seseorang boleh saja berorasi di depan umum namun tidak di benarkan untuk menprovakasi orang lain untuk melanggar hukum yang berlaku.

Di era di digital, setiap penduduk indonesia yang memiliki akun media sosial bebas untuk berpendapat namun tidak di benarkan menyebar konten negatif yang berpotensi menyebabkan kekacauan di tengah masyarakat. Menyebarkan berita bohong (hoaks) dan ujaran kebencian menjadi fenomena baru di indonesia. Pemerintah harus berperan aktif dalam memberantas oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab ini namun yang lebih penting masyarakat juga harus berkontribusi nyata untuk membendung berita hoaks dan ujaran kebencian. Jangan mau ikut-ikutan namun bendunglah dengan cara mencari tau infomasi yang sebenarnya atau setidak-tidaknya jangan sekali-sekali menyebarkan berita bohong dan ujaran kebencian tersebut.

indonesia harus berubah, tidak ada lagi politikus kotor yang menjual agama dalam berpolitik di negeri ini, tidak boleh ada lagi pembuka agama yang suka berkata kasar dan memprovokasi umatnya, dan tidak ada lagi nitizen yang mengkritik tanpa solusi, inipun jika kita peduli akan indonesia dan orang-orang yang anda sayangi”.

Politik Mayoritas di Indonesia

Previous article

Rusuh Papua Menjadi Jalan Bagi Oknum untuk Menebar Kebencian di Media Sosial

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi