Suku Minangkabau awalnya terdiri dari empat suku induk yang kemudian berkembang menjadi ratusan suku karena hubungan kekerabatan dengan suku lain.
menurut digitalsumbar Asal usul Suku Minang Sumatera Barat berasal dari Kerajaan Minangkabau di Sumatera.
Sulitnya untuk mencari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya menjadi alasan tersendiri untuk merunut dan menguraikan lagi benang kusut sejarah budaya alam minangkabau. Hal ini sangat dipengaruhi oleh budaya menyampaikan adat di wilayah Minangkabau yang hanya bersumber dari mulut ke mulut.
Hal ini diperjelas dengan tidak terdapatnya huruf tertentu yang berasal dari wilayah sumatera barat. Satu-satunya prasasti yang menjadi tolak ukur huruf yang dipakai oleh orang Minangkabau pada zaman dahulu hanya prasasti Adityawarman.
Masyarakat Minangkabau lebih mengenal prasasti Adityawarman dengan Batu Basurek. Huruf yang dipahat pada batu prasasti ini adalah huruf Jawa kuno. Sedangkan bahasa yang dipakai adalah Sangsekerta bercampur dengan sedikit bahasa Melayu kuno.
Menjadi masuk akal kalau salah satu buletin yang beredar pada tahun 1999 yang memuat tentang empat suku awal Minangkabau. Bisa dijadikan sebuah referensi untuk sedikit menguak asal usul suku di Minangkabau. Berikut uraian dari buletin tersebut.
Bodi dari Bhodi (pohon yang dimuliakan orang Budha) Caniago dari Caniaga (niaga = dagang) · Koto dari Katta (benteng) Piliang dari Pili Hyang (para dewa)
Bodi Caniago adalah kelompok kaum Budha dan saudagar-saudagar (orang-orang niaga) yang memandang manusia sama derajatnya. Daerah asal diperkirakan dari Tiongkok, Campa dan Siam.
Koto Piliang adalah kelompok orang-orang yang menganut agama Hindu dengan cara hidup menurut hirarki yang bertingkat-tingkat. Daerah asal diperkirakan dari India Selatan
Suku Tanjuang berasal dari Marga Tanjung di Barus, Pesisir Barat Sumatera Utara, Barus sudah ramai penduduk sejak sebelum masehi
Suku Jambak (suku Campa) berasal dari Asia Tengah, mengembara ke selatan dan memasuki Sumatera lewat muara-muara sungai besar.
Suku Sikumbang, seketurunan dengan Suku Jambak. Kedua suku ini (Jambak dan Sikumbang) sama-sama mengagungkan Harimau sebagai perlambang (Harimau Campa dan Harimau Kumbang)
Suku Malayu, berasal dari penduduk asli Sumatera yang pernah hidup di kerajaan-kerajaan Malayu Tua seperti Kandis dan Koto Alang, di kemudian hari penduduk dari Dharmasraya dan bangsa proto Melayu yang tinggal di antara Sungai Musi dan Sungai Batanghari juga disukukan sebagai Malayu dalam adat Minang.
Suku ini sangat memuliakan Bukit Siguntang Mahameru. Lihat kembali Tambo Alam Surambi Sungai Pagu yang penduduk awalnya bersuku Malayu.
Suku Mandahiliang, suku pendatang dari Tapanuli Selatan yang dimasukkan kedalam adat Minangkabau
Suku Pisang, berasal dari penduduk Pisang di Kuala Inderagiri (lihat peta, lokasi di pangkal jalur merah).
Suku Asal Minangkabau | Silungkang Dalam Sejarah
a. Melayu nan IV Paruik (Kaum Kerajaan) :
Melayu
Kampai
Bendang
Lubuk Batang
b. Melayu nan V Kampung (Kaum Datuk nan Sikalap Dunie)
Kuti Anyir
Patopang
Banuhampu
Jambak
Salo
c. Melayu nan VI Ninik (Kaum Datuk Perpatih Nan Sabatang)
Budi
Singkuang
Sungai Napa
Mandahiling
Ciniago
Sipanjang
d. Melayu Nan IX Induak (Kaum Datuk Ketemenggungan)
Andomo Koto
Piliang
Guci
Payabadar / Dalimo
Tanjung
Simabur
Sikumbang
Pisang
Paya Cancang
Keterangan :
Koto Piliang dan Budi Ciniago disebut Lareh Nan Duo
Ciniago :
Ci = Cina / Kocin
Niago = berdagang / cari uang
Disalin dari buku Datuk Simarajo sewaktu menerima curaian adat dari beliau pada tanggal 24 Desember 1984
Yang Menyalin,
H. Kamaruzzaman
Sumber : Bulletin Silungkang, No. 003/BSM/MARET/1999.
Yang harus digarisbawahi disini adalah belum terdapatnya penelitian terhadap pendapat atau teori ini. Karena sampai saat ini belum ditemukannya penelitian secara ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Namun hal ini dapat dijadikan referensi bahwa suku Minangkabau sangat erat hubungannya dengan suku bangsa lain dan lahirnya kebudayaan Minangkabau tidak terlepas dari suku bangsa lain yang pernah ada di wilayah ini.
Menjadi suatu keharusanlah bagi suku-suku di Minangkabau untuk bersifat inklusif terhadap kebudayaan lain. Dan tidak bersifat eksklusif terdapat kebudayaan lain, karena kebudayaan Minangkabau sendiri sangat dipengaruhi oleh kebudayaan lain.
Tidak ada bukti pasti yang menunjukkan bahwa semua suku di wilayah Minangkabau beragama islam. Walaupun ada falsafah hidup masyarakat Minangkabau “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”. Bukan menjadi acuan secara menyeluruh yang dapat menunjukkan bahwa semua orang yang bersuku Minangkabau adalah orang islam seperti yang sering digembar gemborkan dalam dunia perpolitikan sumatera barat selama ini.
Comments