Hidup di negara multikultural menghadapkan kita pada kenyataan untuk berbagi lingkungan hidup dengan ras, suku, atau agama lain. Keberagaman dapat dikatakan sebagai pisau bermata dua. Jika ditanggapi positif, maka positiflah dampak dari keberagaman ini, begitu juga sebaliknya.

Keberagaman dapat kita analogikan sebagai sebuah warna. Beragam, aneka ragam, yang dalam kehidupan sehari-hari kita kenal dengan macam, unik, perbedaan, atau dalam bahasa akademiknya kita kenal dengan istilah pluralis. Keberagaman diciptakan Tuhan sebagai bentuk dukungan kepada adanya ciri khas sifat manusia, yaitu unik. Setiap orang memiliki keunikan tersendiri dalam dirinya, dan itu berbeda dari orang lain di sekitarnya.

Keberagaman tidak hanya dalam bentuk besar seperti berbeda bangsa, ras, dan suku, perbedaan sikap, sifat sudut pandang, pola pikir dan kepribadian. Adalah bentuk kuasa Tuhan menciptakan keberagaman. Keberagaman adalah hal yang biasa. Bahkan akan menjadi sesuatu yang luar biasa, ketika kita bijak menyikapinya. Dalam keberagaman terdapat perbedaan dan kebersamaan.

Perbedaan bukan berarti kita sendiri-sendiri. Perbedaan menuntut kita untuk mampu menerima dan memberikan kelapangan. Toleransi istilahnya. Dalam sejarah kebangsaan kita, nilai-nilai ini telah terangkum dalam Pancasila, UUD 45, juga dalam semboyan Bhineka Tunggal Ika. Hidup berdampingan dengan damai, tanpa ada caci maki dan judgement saya yang benar. Cukup pegang teguh kepercayaan yang kita anut, dan mereka juga demikian. Kepercayaan ada di dalam hati kita, dan untuk keseharian, mengapa kita tidak berkolaborasi dengan mereka yang berbeda. Bukankah lukisan akan menjadi indah ketika ada Kolaborasi warna di atas kanvasnya? Sungguh keren Indonesia jika mampu berkolaborasi dan mampu mengelola keberagaman dengan baik. Tentu saja pengelolaan keberagaman ini tidak dapat dilakukan dan diusahakan oleh semua pihak. Seluruh pihak harus ikut berpartisipasi untuk menciptakan cinta yang luas pada sesama, tanpa membedakan kepercayaan, ras, suku, budaya, bahkan bangsa. Tak ada yang lebih indah dari toleransi kemudian menciptakan Kolaborasi untuk mewarnai negeri ini dengan keindahan, agar tak sia-sia Tuhan menciptakan keberagaman.

Bertemu, berkenalan, bercerita, makan satu meja, diskusi hangat khas anak muda, menemukan ide-ide kreatif yang membangun adalah salah satu bentuk atau cara yang bisa ditempuh untuk merekatkan dan menekan stigma buruk tentang orang-orang yang berbeda pandangan, orang-orang yang berbeda kebudayaan, ras, dan lain sebagainya. Yakini saja bahwa keyakinan kita benar, dan pegang dengan seerat mungkin, tapi jangan menilai keyakinan yang lain adalah salah. Jangan menilaiii rendah orang lain dengan segala atribut yang dibawanya. Kita tak perlu selalu menonjolkan diri dan berkompetisi untuk menjadi yang terdepan. Karena semua adalah yang terbaik menurut versi masing-masing. Tidak ada yang salah. Kita hanya berbeda.

Keberagaman adalah warna yang dihadiahkan Tuhan untuk kita, tapi seringkali terlupakan. Dan Bhineka adalah cara kita, Indonesia merawat dan menafaatkan warna indah hadiah dari Tuhan ini.

Ditulis oleh : Cahyu Ningsih

product-image

Abyan Adam

Diplomasi Budaya Lokal Minang (Randai) Dalam Upaya Membangun Perdamaian Dunia

Previous article

PARADIGMA GENERASI Z TERHADAP ISLAM MODERAT

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi