Dalam kehidupan sosial sehari-hari tentunya kita sering mendengar istilah orang awam. Dalam Kamus besar bahasa indonesia orang awam di artikan sebagai orang biasa atau orang tanpa memiliki suatu keahlian di sutu bidang tertentu. Tentunya di suatu negara orang awam sangat banyak dan lebih sering disebut sebagai pengikut dari arus yang ada. Entah itu arus gerakan  politik, gerakan sosial, gerakan keagamaan atau gerakan yang lainnya.

Dalam dunia politik “Common People”  menjadi kelompok yang pertama di bidik untuk mendulang suara karena jumlahnya yang sangat besar dan tingkat kematangan berfikirpun tidak terlalu kritis jika dibandingkan masyarakat lain yang setidaknya memiliki suatu keahlian tertentu. Seseorang dengan memiliki keahlian di suatu bidang tentunya akan lebih membatasi diri untuk ikut-ikutan dengan arus tertentu.

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Diperkirakan, 229 juta orang Indonesia adalah penganut agama Islam. Jumlah ini mencapai 87,2 persen dari total populasi Tanah Air atau 13 persen dari total populasi Muslim di seluruh dunia. Artinya setiap penduduk yang beragama islam di indonesia pasti memiliki setidak-tidaknya satu orang pembuka agama yang sering didengarnya.

Kita anggap satu orang ulama memiliki minimal 1000 pendengar atau pengikut artinya di indonesia terdapat 229.000 ulama atau pembuka agama islam di indonesia yang menjadi pendengar yang baik dari ulama tersebut. Ketika ulama tersebut berkata “A” maka yang sering dilakukan oleh pengikutnya kemungkinan  juga “A” begitu juga ketika ulama tersebut mengatakan “B” pengikutnya juga akan melaksanakan “B”. Itulah arti pentingnya ulama bagi umat islam yaitu menjadi contoh dalam beragama.

Lalu bagaimanakah arti ulama di mata orang awam? Common people mengaganggap ulama adalah sosok penting dalam bermasyarakat dan kadang juga sampai pada kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyak ulama terdahulu yang berperan penting dalam merebut tanah air ini dari penjajahan. Contohnya Al Habib Ali Al Habsyi, Al Habib Idrus Al Jufri, Al Habib Syarif Sultan Abdul Hamid II, dan lainnya.

Pertama, Ulama dimata orang awam haruslah mereka dengan wawasan keagamaan yang luas sehingga kajian yang akan dibawakan oleh seorang ulama tersebut tidak membosankan. Keluasan seorang ulama dalam wawasan keagamaan menjadi kunci penting bagi seorang ulama utuk di dengarkan oleh para pengikutnya. Kenapa seorang ustad di kampung belum bisa di katakan sebagai ulama dan hanya di anggap sebagai seorang penceramah agama islam biasa? Hal ini dilatarbelakangai oleh wawasan keagamaan itu sendiri.

Kedua, Ulama dimata orang awam adalah mereka dengan tutur kata yang baik. Ulama besar dimata common people akan selalu berkata lemah lembut, sopan santun dan tidak pernah berkata kasar ataupun mencaci dan memaki orang lain. Dengan perkataan yang baik maka ajaran islam akan lebih muadah terserap ke sanubari masyarakat umum. Pertama kali istilah ulama sejuta umat di indonesia diberikan gelar kepada KH. Zainuddin MZ dan memang dalam ceramah agamanya yang tegas dan jenaka beliau tidak pernah mencaci maki orang lain.

Munculnya penceramah agama dengan klam banyak pengikut dengan gaya ceramah kasar dan sering mencaci maki orang lain menjadi persoalan tersendiri bagi bangsa ini. Ketika ulama lain tidak menegur atau menasehati penceramah agama yang menggunakan kosa kata kasar ini tentunya akan berefek yang negatif bagi umat islam di indonesia. Sehingga penganut islam di indonesia yang sebagian sudah mulai kritis terhadap informasi jadi tidak mau mendalami islam lebih dalam lagi karena pengaruh kata-kata kasar ini.

Ketiga, Ulama dimata orang awam tidak hanya pandai dalam memahami islam saja juga sering dijadikan sebgai “Role Models” dalam menjalani hidup. Ulama sering menjadi suri tauladan bagi pengikutnya, baik dalam agama maupun dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seorang ulama sudah menjadi suri tauladan bagi pengikutnya otomatis segala tingkah laku ulama tersebut akan di ikuti oleh pengikutnya.

Ketika seorang ulama mengajarkan sikap toleransi terhadap pemeluk agama lain dengan kosa kata yang baik maka dapat dipastikan pengikutkan akan menjalankan ajaran tersebut tanpa menyakiti perasaan penganut agama lain. Namun ketika seorang ulama sampai melontarkan kosa-kata provokastif kepada pengikutnya untuk menyingkapi penganut agama lain maka juga dapat dipastikan pengikutnya juga akan terpancing memusuhi penganut agama lain.

Ulama yang baik dan akan selalu dikenang kebaikannya oleh umat islam di seluruh indonesia maupun dunia adalah ulama dengan tujuan utamanya adalah mengajarkan keabakan pada umat islam. Mengajarkan kebaikan tentunya dengan menggunakan kosa kata yang baik pula tanpa menyakiti perasaan orang lain. Ulama besar di indonesia pasti mengajarkan bagaimana merawat toleransi antar umat beragama dengan tujuan akhir menjadikan bangsa ini besatu dalam sebuah perbedaan yang ada.

Gusveri Handiko
Blogger Duta Damai Sumbar Tamatan Universitas Andalas Padang Menulis Adalah Salah Satu Cara Untuk Berbuat Baik

    ULAMA DALAM MENEGAKAN PERDAMAIAN

    Previous article

    Mujahidin Indonesia Timur Kelompok Teroris Pembunuh Keluarga Di Kabupaten Sigi

    Next article

    You may also like

    Comments

    Leave a reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    More in Opini