Budaya/Sastra

Standar Ketampanan dan Kecantikan Jadi Tolak Ukur Manusia Bumi

0

Oleh: Fadillah SW


Boleh saya jujur? Kepada nona dan tuan yang cantik dan rupawan bak raja ratu sejagad berlenggok di atas perlak karatan
Boleh saya tertawa? Sedikit saja tidak terbahak pun terkekeh. Tertawa untuk sebuah pembodohan receh yang sering terjadi di jaman modern tapi seperti megalitikum.


Haha, lucu rasanya kini yang menjadikan seseorang itu terkenal dan dikenal bukan lagi prestasi namun petisi siapa tampan siapa cantik dia menawaan
Seperti diamputasi oleh steriotip narsisme layaknya pangeran dan putri di negeri antah berantah, wahai tuan dan nona muda yang mengaku paling rupawan dan hartawan.


Sudahlah tidak usah banyak bertingkah, berlenggok diatas tanah yang juga akan menginjakmu di dalam nya. Tertawa mendengar wajah jadi penentu hebat atau tidak nya seseorang, kaya atau tidak nya seseorang tua atau muda nya seseorang
Hei, bukannya Tuhan sudah mengatur ciptaan-Nya dalam bentuk sebaik baiknya. Lalu kenapa engkau anak muda masih saja termangut di kata “Tampan” “Cantik” dan “Muda”.

Bukannya hamba iri pada nona nona manis atau tuan tuan tampan
Hanya tergeleng saja ingin menertawakan, menertawakan kebodohan yang semakin canggih dari kebijaksanaan. Yang menjadikan fisik segala galanya dalam mengukur jati diri seseorang
Katanya, kita toleransi namun ternyata malah sebaliknya. Katanya tak bermaksud skeptisme pada yang buruk rupa, nyatanya ironi belaka… Miris melihat nan indah berlenggok berbusana tipis di kotak kotak ajaib yang tersenyum jahil. .. Sekali lagi hamba tidak iri hanya frustasi
Melihat kengerian dunia ini yang semakin buas dan mencengkam.

Toleransi tak sebatas anda berkata “Kita toleransi” atau sebatas ikut amunisi turun ke jalan di saf paling depan mengorasikan lindungi minoritas, jangan ada diskriminasi ras, semua sama dimata Tuhan.
Ya benar semua sama hanya dimata Tuhan, bukan dimata manusia. Ayolah, jangan mengaku toleran jika masih ada yang meremehkan seseorang dari rupanya saja, jangan banyak pencintraan bila diri tak benar benar tulus mengayomi yang merasa buruk rupa dan terpuruk…


Secara tidak sadar diri kita masih banyak melukai dan mendiskriminasi orang lain diluar sana puan tuan dan nona rupawan, katanya hanya bercanda nyatanya mengiris hati dan berbekas sedu di si penerima pesan. .. Sekali lagi jangan ukur hebat atau tidaknya manusia dari rupanya saja, karena Billal bin Robbah yang disebut budak paling hitam, menjadi pengumandang adzan yang tertulis disejarah dengan suara paling merdu… Lantas siapa kita yang bukan Billal bin Robbah atau lainnya berani mencerca meremehkan rupa seseorang hanya karena dia tak terlibat indah dimata sebagian lainn

Merdeka Itu Apa?

Previous article

Berbuka bersama : Tradisi Zaman Now, Ambil Sisi Positifnya Aja

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *