Novel Saga no Gabai Baachan, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi Nenek Hebat dari Saga, merupakan novel yang ditulis oleh Yoshichi Shimada untuk mengenang nenek tercintanya. Novel tersebut pertama kali diterbitkan oleh Khansa Books pada tahun 2001 dan habis terjual sebanyak 100.000 eksemplar. Novel Saga no Gabai Baachan menjadi novel best seller dan telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, salah satunya bahasa Indonesia. Novel yang berisi 255 halaman tersebut menceritakan mengenai Akihiro yang tinggal di Saga bersama neneknya setelah Perang Dunia II.

Cerita dari novel tersebut dimulai dengan ibu Akihiro yang menitipkan Akihiro pada Nenek Osano di Saga. Hal tersebut karena semenjak kematian sang suami, ibu Akihiro harus banting tulang sendirian untuk menafkahi Akihiro dan kakaknya dengan cara berjualan sake di Hiroshima.

Cerita perjuangan dimulai ketika Akihiro sampai di Saga. Tidak seperti kebanyakan nenek-nenek yang dikira, Nenek Osano memiliki tingkah laku yang aneh dan juga unik. Ia mengajarkan cucunya yakni, Akihiro, dengan sifat optimis yang dimiliki untuk bertahan hidup dari kemiskinan pasca Perang Dunia II.

Salah satu alasan saya suka dengan novel ini, mengenai sikap optimis Nenek Osano dan penurutnya Akihiro dengan apa yang diperintahkan oleh sang nenek. Berikut beberapa kata bijak dari si nenek yang saya ambil untuk menjadi pegangan.

Saat kita dibenci, berarti kita menonjol dari orang lain. Ketika kita melakukan suatu hal, tidak semua orang yang akan suka dengan hal yang kita lakukan. Yah, memang begitulah seharusnya. Orang-orang yang membenci kita itu, rata-rata tidak bisa melampaui kita. Contohnya saya, ketika saya mulai menulis, banyak yang mulai mencemooh hobi saya ini. Well, selagi saya tidak mengganggu mereka, saya rasa itu tidak masalah. Saya juga berpikir, menjadi seorang penulis itu sangat susah karena merangkai kata yang ada dalam pikiran terbilang tidak mudah. Dengan kata lain, mereka yang mencemooh saya, saya simpulkan tidak bisa menulis seperti saya.

Hidup itu selalu menarik. Daripada pasrah, selalu coba cari jalan! Kata-kata jleb dari si nenek untuk orang yang suka berputus asa. Sejatinya begini, tidak ada manusia yang terlahir gagal dan tidak ada kehidupan yang tidak dirundung oleh masalah. Setiap orang pasti ada masalah masing-masing. Jika tidak masalah, ya, cari masalah baru (hal lumrah menurut saya yang suka cari masalah). Maka dari itu, daripada pasrah menerima keadaan, lebih baik cari jalan keluar agar apa yang kita kerjakan berbuah manis.

Saat jarum jam dinding berputar ke kiri, orang akan menganggapnya rusak dan membuangnya. Manusia pun tidak boleh menoleh ke belakang, terus maju dan maju, melangkah ke depan!

Setiap orang pasti ada masa lalu, bukan? Lantas, apakah kita harus meratapi masa lalu kita? Tentu tidak! Melangkah ke depan dan menatap masa depan adalah hal yang harus kita lakukan daripada berdiam diri di tempat.

Ada dua jalan untuk orang miskin. Miskin muram dan miskin ceria. kita ini miskin yang ceria. Selain itu karena bukan baru-baru ini saja menjadi miskin, jadi kita tidak perlu cemas. Tetaplah prcaya diri. Keluarga kita memang turun temurun miskin.

Setelah membaca buku tersebut, saya baru tahu kalau miskin itu ada dua, yaitu miskin suram dan miskin ceria, apalagi miskin keturunan. Sebenarnya, miskin itu pilihan karena tidak ada yang ingin miskin. Semua orang ingin kaya dan hidup cukup. Petikan kata Nenek Osano tersebut, kira-kira cocok untuk orang yang baru saja ditimpa musibah. Walaupun nanti keadaan tidak berpihak, jangan ada kata sedih untuk hidup kita.

Selain perkataan di atas, masih banyak hal optimis lain yang diajarkan oleh Nenek Osano kepada Akihiro sehingga dengan kata-kata optimis tersebut, membuat hari-hari Akihiro di Saga yang awalnya suram menjadi indah. Ia juga bisa menyelesaikan sekolah dengan baik dan bergabung dengan klub baseball. Walaupun pada akhirnya, Akihiro malah menjadi pelawak “B&B”.

Novel sebanyak 255 halaman tersebut disajikan dengan bahasa yang ringan, membuat saya seakan terlibat dalam kisah cerita tersebut. Tidak heran, novel tersebut diminati oleh masyarakat dunia, terkhususnya Negara Jepang. Menurut Yoshichi Shimada, novel tersebut ditulis untuk mengenang sikap sang nenek yang selalu optimis dengan situasi apa pun.

Alasan selanjutnya, saya menyukai novel Saga no Gabai Baachan, novel tersebut sangat dibutuhkan oleh beberapa orang, terutama bagi mereka yang kesulitan bertahan hidup dalam keadaan miskin. Novel tersebut juga memberikan semangat dan motivasi dalam kehidupan masyarakat agar selalu bersikap optimis seperti yang dilakukan Nenek Osano dan Akihiro.

Buku tersebut adalah buku yang saya kaji untuk skripsi. Dari buku tersebut saya tahu bahwa Negara Jepang yang kaya pun pernah miskin dan porak-poranda dulunya.

Yui
Penulis dan Pengarang

    TANAH LELUHUR PUN TERPAKSA BERPESAN MELALUI ALAM MIMPI MENGENAI TRADISI YANG TELAH PUNAH

    Previous article

    Jadi Sebenarnya Apa Itu Generasi Sandwich?

    Next article

    You may also like

    Comments

    Leave a reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    More in Edukasi