Dunia maya adalah salah satu  pemanfaatan bagi kalangan milenial hal itu sejalan dengan, perubahan sumber informasi dari ranah konvensional ke arah digital juga mempengaruhi proses dalam penerimaan dan penyerapan informasi. Banyak website yang menyajikan konten kreatif hingga informasi keagamaan. Zaman yang semakin modren menjadikan tantangan bagi generasi muda dalam mengolah informasi dan pengetahuan yang berkembang. 

Mengapa anak muda sebagai tolak ukur dalam kemajuan zaman? Karena generasi muda memiliki jalan yang masih panjang itulah yang membuat menarik harapan. Anak muda sebagai harapan juga untuk generasi yang akan datang untuk memainkan peran bagi bangsa dan negara.

Pernahkan kita berfikir pada masa dulu betapa bangganya kita meniru tampilan tokoh-tokoh pahlawan pergerakan zaman seperti H. Agus Salim, Moh Hatta, Sultan Syahrir dan masih banyak lainnya. Namun perpindah ke zaman saat ini semua terasa berbeda,  gerakan yang dulu di nilai sebagai rasa cinta kepada tanah air dan menghargai nilai-nilai pancasila sudah tidak seindah itu.

Kini banyak terjaadi kemirisan dalam bertindak seperti terjadinya kasus bom bunuh diri dengan alibi untuk berjihad di jalan Allah, hal itu di sebabkan karena terdoktrin oleh kelompok radikalisme. Ada juga anak-anak muda yang tidak mau menghormati bendera merah putih karena mereka meyakini bisa membawa kesyikirikan. Sungguh terlihat jelas pengaruh paham radikalisme. Apa itu paham radikalisme?

Paham radikalisme menurut David Jarry kata radika berasal dari radices yang berarti a concerted attempt to change the status quo yaitu kehendak untuk mengubah kekuasaan. Istilah radikal ini juga seringkali diidentikan dengan kelompok-kelompok keagamaan yang memperjuangkan prinsip-prinsip keagamaan secara mendasar dengan cara yang ketat, keras, tegas tanpa  kompromi.

Maka dari itu pentingnya pemahaman literasi dalam kehidupan salah satunya ialah dalam mengunakan media masa, banyak informasi yang tersebar secara cepat dan update. Secara umum pengertian literasi diambil dari bahasa serapan Inggris yaitu literacy . dimana dapat diartikan sarana unuk sumber belajar membaca dan menulis. Namun pengertian literasi  tidak hanya itu saja literasi memiliki arti yang sangat luas salah satunya, menurut National Insitute for Literacy “termasuk kemampuan dalam menghitung dan memecahkan permasalahan ”. 

Menurut Ibnu Adji Setyawan (2018: 1) istilah literasi sudah mulai digunakan dalam skala yang lebih luas tetapi tetap merujuk pada kemampuan atau kompetisi dasar literasi yakni membaca dan menulis, sedangkan untuk mendapatkan kemampuan literasi adalah melalui pendidikan. 

Ada literasi informasi ​yang merupakan kemampuan yang dimiliki oleh seseorang di dalam mengenali kapankah suatu informasi diperlukan dan kemampuan untuk menemukan serta mengevaluasi. Karena banyak narasi-narasi yang mengandung unsur radikalisme mengenai agama “ kita harus berhukum kepada hukum Allah. Yang tidak berhukum kepada hukum Allah itu adalah thaghut. Pancasila adalah thaghut. Maka dari itu kita harus hijrah ke negeri yang menerapkan hukum Allah secara kafah.

Mungkin bagi orang awam bisa saja terdoktrin dengan pernyataan seperti itu, tapi tidak tutup kemungkinan generasi muda ikut terdoktrin dengan paham tersebut, maka dari itu pentingnya pemahaman literasi sejak kini. Tidak hanya itu saja kita juga harus banyak bertanya tentang informasi yang tersebar di media masa karena apa yang ter update belum tentu itu benar apalagi mengenai paham sebuah agama, kita tidak bisa menelan mentah-mentah sendiri.

Karna dari segi agama, agama dipandang sebagai racun karena radikalisme dan terorisme yang ada di Indonesia adalah radikalisme dan terorisme yang mengatasnamakan agama dan moral, maka lahirlah paham yang salah mengenai jihad, khilafah, hijrah bahkanh thaghut. Kita tau bahwa agama dan negara adalah dua hal yang berbeda, dan mencintai tanah air itu bukan berarti kita syirik seperti hormat ketika upacara bendera itu tidak dapat di katakan dia syirik. Karena keimanan kita pada Tuhan itu terletak di dalam hati dan kepercayaan masing-masing kita. Menghormati bukan berarti menyembah apalagi meyakini dengan keimanan itu sungguh pemahaman yang sangat jauh. 

Jadi untuk kita yang saat ini sudah melek terhadap teknologi dan ilmu pengetahuan sudah saatnya untuk lebih aware lagi dalam berliterasi, karena jika bukan kita siapa lagi yang akan meneruskan ujung tombak negeri ini, dan jika buka sekarang kapan lagi?. Zaman yang semakin maju tentu saja tindak kejahatan juga akan semakin pesat. Akankah kita menjadi korban atau menjadi pelopor untuk meminimalisir hal itu terjadi. 

11 Terduga Teroris Ditangkap di Merauke, Papua

Previous article

Pahlawan Bangsa

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *