Opini

Mereka yang Berbeda Keyakinan Tidak Berarti Bukan Saudara

0

Penulis : Inke Indah Fauziah

Bersaudara berarti membangun hubungan intim yang harmonis di tengah perbedaan. Komitmen bersaudara merupakan harga mahal yang setiap diri harus berjanji untuk melindungi saudaranya. Persaudaraan ibarat satu tubuh yang satu sama lain merasakan dampak suka dan duka. Namun, persaudaraan tidak sesempit dengan mereka yang memiliki kesamaan. Bersaudara dalam perbedaan adalah sesuatu yang sangat berharga.

Fakta sejarah memperlihatkan kepada kita bahwa bersaudara bisa terjadi dalam perbedaan. Rasulullah membangun persaudaraan di Madinah tidak hanya ikatan persaudaraan antara muhajirin dan ansor saja, melainkan persaudaraan semua penduduk Madinah saat itu. Semua diajak Nabi menjadi saudara untuk saling melindungi komunitas bersama yang bernama umat.

Kenyataan ini harus menjadi dasar bagi umat Islam agar membangun persaudaraan tidak sempit hanya persoalan keyakinan. Klaim persaudaraan umat penting dalam rangka menjaga persatuan intra umat. Namun, bukan berarti persaudaraan Islam menafikan rasa bersaudara terhadap yang berbeda.

Di sinilah penting menukil salah satu ucapan yang sangat luar biasa. “Mereka yang bukan saudaramu dalam iman adalah saudaramu dalam kemanusiaan”. Kata-kata ini berasal dari Imam Ali bin Abi Thalib yang disebutkannya dalam sepucuk surat yang dia kirimkan kepada gubernur Mesir, Al-Asytar an-Nakha‘i, saat Imam Ali menjabat sebagai khalifah pada abad ke-7 Masehi (656-661 M).

Semua manusia bersaudara dalam perspektif kemanusiaan. Keyakinan teologis dalam setiap agama Ibrahim selalu merujuk penciptaan manusia dari genetik Adam. Kepercayaan ini bukan sekedar dogmatis, tetapi secara dimensi sosial meyakini bahwa sesungguhnya seluruh umat adalah bersaudara dari bapak yang sama. Manusia adalah satu jenis makhluk yang dimuliakan Allah dari asal yang sama.

Kenapa berbeda? “Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal” (QS. Al-Hujurat: 13). Penegasan ini sudah cukup jelas bahwa Allah memang menjadikan manusia saling berbeda-beda meskipun lahir dari bapak yang satu. Perbedaan yang niscaya ini diciptakan dalam rangka saling mengenal. Saling mengenal adalah penting untuk memupuk persaudaraan yang asali.

Dengan demikian, perbedaan keyakinan, suku, etnis, dan bahasa bukan halangan yang cukup terjal untuk merekatkan kembali persaudaraan kemanusiaan. Jika berbeda keyakinan, setidaknya kita bersaudara dalam satu bangsa dan satu tanah air (ukhuwah wathoniyah). Jika berbeda bangsa, setidaknya yakin bahwa manusia adalah bersaudara dalam kemanusiaan (basyariyah).

Ketika persaudaraan ini tercipta banyak tanggungjawab yang harus dilakukan sesama saudara. Tidak boleh membuat saudaranya tersakiti, tidak boleh memfitnah, menggunjing atau bahkan tidak menyapa saudaranya. Islam begitu sangat detail membicarakan bagaimana bersikap yang baik terhadap sesama saudaranya. Bahkan dengan tegas mereka belum bisa dikatakan beriman secara sempurna kecuali mencintai saudaranya. Karakter ajaran Islam yang sangat indah ini menunjukkan bahwa Islam menghendaki persatuan, bukan perpecahan, Islam mendorong persaudaraan, bukan permusuhan dan Islam agama yang cinta perdamaian, bukan kekerasan.

Sumber : jalandamai.org

dutadamaisumbar

Yuk Kenalan dengan “Warung NKRI”

Previous article

Dalam Konteks Berbangsa dan Bernegara, Kita Semua Bersaudara!

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini