Opini

Membumikan Nilai-Nilai Keislaman,Kemanusiaan, dan Keindonesiaan Ahmad Syafii Maarif

0

Di era perkembangan teknologi informasi yang kian pesat ini, bangsa Indonesia tengah diterpa dengan berbagai persoalan yang menjadi perhatian kita bersama, khususnya perihal permasalahan tentang titik terang antara posisi agama dan negara serta sistem demokrasi yang seakan-akan tidak ada ujungnya.

Namun begitu, di tengah-tengah kondisi bangsa yang semberaut ini, perlu juga kita syukuri bahwa Indonesia masih memiliki tokoh-tokoh cendikiawan dan pemikir yang selalu gelisah dan memikirkan nasib bangsa ini kedepannya, salah satu dari tokoh-tokoh itu adalah Ahmad Syafii Maarif yang kemudian kita kenal dengan sebutan Buya Syafii. Beliau adalah salah satu sosok pemikir Indonesia yang lantang bersuara dalam menegakkan toleransi di Nusantara ini.

Buya Syafii memang tidak muda lagi secara umur, karena pada tanggal 31 Mei bulan ini beliau akan memasuki umur yang ke-86, walaupun dari segi usia beliau sudah senja, namun dari segi semangat beliau patut menjadi panutan generasi muda dalam menciptakan perdamaian di negeri ini.

Indonesia patut berbangga memiiki sosok seperti Buya Syafii, karena pemikirannya yang sangat berpengaruh dan dibutuhkan dalam merawat kebhinekaan yang ada ini. Apalagi jika kita melihat dari berapa dekade belakangan ini dengan semakin kuatnya bermunculan berbagai isu tentang politisasi agama. Maka Buya Syafii sering kali dimintai pendapatnya oleh pemimpin bangsa ini dalam menyikapi kondisi bangsa hari ini.

Karena memang Buya adalah tokoh yang sudah berpengalaman dalam hal ini, serta pergaulan beliau yang luas tanpa sekat juga menjadi acuan kita dalam menjaga persaudaraan atas nama kemanusiaan ini. Di samping itu, dari segi pendidikan beliau juga tak bisa kita kesampingkan, tokoh lulusan Chicago ini sudah diakui dalam dan luar negeri terbukti dengan berbagai penghargaan yang beliau terima dari berbagai instansi.

Pemikirannya lahir dari kegelisahan dan keprihatinannya terhadap kondisi umat Islam yang merupakan penduduk mayoritas di Indonesia, yang seharusnya tak lagi mempermasalahkan hubungan antara Islam, Kemanusiaan, serta Keindonesiaan. Karena bagi Buya hubungan ketiganya adalah senafas yang tak bisa dipisahkan. Ketiga hal itu harus berjalan seiringan agar Islam yang berkembang di Indonesia adalah sebuah Islam yang ramah, terbuka, damai, serta memberikan keamanan untuk semua manusia yang menghuni bumi Nusantara ini.


Memang untuk menerapkan nilai-nilai dan pesan Keislaman, Kemanusiaan, serta Keindonesiaan ini tidaklah mudah, butuh proses yang juga berliku, sebab Indonesia adalah masyarakat yang majemuk, dan kemajemukannya ini juga sering dimanfaatkan oleh aktor-aktor elit tertentu dalam mencapai tujuannya masing-masing, sehingga untuk mengkampanyekan Keislaman, Kemanusiaan, dan serta Keindonesiaan ini sangat perlu dalam menghadirkan wajah Islam yang ramah itu di Indonesia ini. Karena ketika ketia hal tersebut sudah senafas dalam jiwa, pikiran, dan tindakan umat Islam Indonesia maka umat akan mampu memberikan solusi terhadap permasalahan-permasalahan besar bangsa ini.

Maka Islam Indonesia akan hadir dengan wajah sebuah Islam yang dinamis, ramah, serta bersahabat dengan semua manusia, dengan mengedepankan keadilan,keimanan, dan perlindungan bagi semua manusia, bukan wajah Islam yang gersang, sangar, keras, serta kuno dengan perkembangan dan kemajuan zaman.


Pekerjaan maha besar dari pemimpin bangsa ini adalah untuk terus membenahi permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh rakyat, seperti kemiskinan, kesenjangan sosial, atau perihal Keindonesiaan dan Kemanusiaan yang tak kunjung usai ini. Buya Syafii dengan konsep Keislaman, Kemanusiaan, dan Keindonesiaan beliau ini mesti kita aplikasikan dalam kehidupan berbangsa ini.

Nilai-nilai Islam yang universal menjadi sebuah langkah yang harus kita terapkan, agar Islam muncul dengan wajah dan wujud kemanusiaan yang adil dan beradab. Sebagai penduduk yang mayoritas Islam dalam bangsa yang beragam ini, maka kita perlu meninjau kembali terhadap gerakan-gerakan yang hanya bercorak Islam saja, sebab dalam realitanya secara sosio historis Islam bukanlah satu-satunya agama negara, melainkan banyak agama yang juga mendapatkan hak yang sama sesuai dengan hukum dan UU yang telah berlaku. Kita harus mampu menerapkan nilai-nilai keislaman universal itu dengan mengedepankan semangat dan persaudaraan kebangsaan yang telah menjadi cita-cita pendiri bangsa ini.

Nuraini Zainal

Serpihan Surga yang Jatuh ke Bumi

Previous article

Palestina-Israel dalam Pandangan Liberalisme Ideasional : Solusi Dua Negara

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini