Opini

Kala Bung Hatta Batal Mudik

0

Onriza Putra – Duta Damai Regional Sumatera Barat

Mudik adalah fenomena sekaligus tradisi bagi masyarakat Indonesia. Tradisi mudik merupakan salah satu akibat migrasi penduduk dari desa ke kota yang berkembang menjadi urbanisasi. Masyarakat yang melakukan urbanisasi tersebut masih memiliki keterikatan yang kuat dengan kampung halamannya. Selain dimanfaatkan sebagai ajang silaturahmi, mudik juga dianggap efektif mengalirkan dana dari kota ke desa.

Jumlah pemudik mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Dalam artikel Statistik Mudik dan Urgensi Transportasi Publik (Dwi Rini Hartati dan Adji Krisbandono), pers rilis Kementerian Perhubungan mencatat 12.989.811 pemudik pada tahun 2015. Untuk tahun 2019, Tim Riset Katadata mencatat terdapat 18,3 juta pemudik.

Untuk tahun 2020, Katadata Insight Center melakukan survei tentang perilaku pemudik terhadap 2.437 responden pengguna internet di 34 provinsi. Hasilnya, 63 persen menyatakan tidak akan mudik, 12 persen menyatakan ingin mudik, 21 persen belum mengambil keputusan dan 4 persen sudah/telah mudik. Survei ini dilakukan pada 29-30 Maret 2020. Dari rilis ini, potensi pemudik masih cukup besar, mengingat 12 persen menyatakan ingin mudik (sekitar 3 juta pemudik). Terkait alasan mudik, 47,2 persen menyatakan rindu kampung halaman, 39,3 persen menyatakan dirinya negatif Covid-19 dan 16,9 persen yakin tidak akan menularkan Covid-19.

Sebelumnya, beragam upaya dilakukan pemerintah untuk mencegah penyebaran Covid-19, mulai dari pemberlakukan PSBB di beberapa daerah hingga pelarangan mudik. Pelarangan tersebut ditetapkan melalui Peraturan Kementerian Perhubungan Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idul Fitri Tahun 1441 Hijriah Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran Covid-19.

Dalam tulisan Lebaran Tanpa Mudik di Awal Republik (Muhammad Yuanda Zara – historia.id), salah satu peristiwa gagalnya mudik terjadi tahun 1946 (walaupun saat itu mudik belum menjadi fenomena besar). Pada tahun awal kemerdekaan tersebut, Idul Fitri jatuh pada tanggal 28 Agustus. Terganggunya fenomena pulang kampung saat itu disebabkan oleh kondisi politik yang tidak stabil (sekutu menguasai beberapa kota dan perpecahan tokoh-tokoh nasional) dan permasalahan transportasi.

Kementerian Penerangan dalam buku Republik Indonesia: Propinsi Sumatera Tengah (1959: 136), menyebutkan pada dini hari itu Padang telah menjadi ‘lautan api’ akibat kebakaran dan pertempuran di berbagai sisi. Koran Kedaulatan Rakjat menjadikan berita pertempuran di Padang ini sebagai headline-nya pada 31 Agustus 1946. ‘Idoelfitri di Padang dirajakan dengan tjara jang istimewa oleh pemoeda2 Padang dan barisan rakjat disekeliling kota terseboet,’ tulis Kedaulatan Rakjat.

Pertempuran antara pejuang Republik dengan pasukan Inggris dan NICA pada dini hari atau beberapa jam sebelum shalat Id di kota itu membuat banyak warganya tak bisa mudik dan berlebaran (mudik dari Kota Padang ke daerah-daerah).

Bung Hatta yang saat itu menjabat sebagai Wakil Presiden, tidak mudik ke kampung halamannya Bukittinggi. Selain sulitnya transportasi ke pesisir barat Sumatera serta situasi Sumatera yang tidak stabil, Hatta juga diberitakan dalam keadaan sakit. Harian Kedaulatan Rakjat mencatat Hatta melaksanakan sholat ied di Alun-Alun Utara Yogyakarta sekaligus menyampaikan pidatonya tentang ajaran islam yang mengandung unsur-unsur perdamaian dan kesatuan, dua hal yang penting saat itu.

Bung Kecil Syahrir juga tercatat tidak pulang ke Koto Gadang. Syahrir dijadwalkan akan bertemu dengan Lord Killearn (Wakil Pemerintah Inggris di Asia Tenggara) pada 29 Agustus di Istana Presiden Yogyakarta. Pertemuan ini membicarakan perdamaian Indonesia-Belanda. Saat itu Syahrir menjabat sebagai Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri. Walaupun dalam suasana ketidakstabilan, Idul Fitri saat itu tetap dilaksanakn dengan khusu’ dan meriah.

Merujuk pada Permenhub Nomor 25 Tahun 2020, dan untuk memutus penyebaran Covid-19, menunda mudik adalah tindakan yang bijak dan tepat yang dapat kita lakukan saat ini karena ketidakstabilan akibat Covid-19. Saatnya kita merayakan Idul Fitri dengan membangun solidatitas sosial dan kebersamaan walaupun tidak mudik ke kampung halaman.

Onriza Putra

Bule Nyoba Kolak Pisang :David Allent TV

Previous article

Berapa Biaya untuk PCR secara masif di Sumbar?

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini