Opini

Feminisme Dalam Kultur Minangkabau

0

Perbedaan bentuk fisik antara laki-laki dan perempuan di masyarakat, juga menimbulkan pembedaan antara peran perempuan dan laki-laki di ruang-ruang domestik dan ruang publik. Jika perempuan selalu diidentikkan dengan makhluk yang lemah, maka berbalik dengan kaum laki-laki yang dianggap sebagai manusia kuat yang selalu didepan dari segala hal dibandingkan perempuan. Laki-laki selalu dianggap sebagai mahluk nomor satu dibandingkan perempuan dalam segala hal. Akibatnya kaum perempuan menjadi individu yang dinomorduakan oleh lingkungan dan masyarakatnya.


Anggapan bahwa perempuan adalah mahluk yang lemah, yang hanya boleh melakukan berbagai hal-hal yang berkaitan dengan kodratnya sebagai perempuan saja, telah mengangkar dihampir semua masyarakat Indonesia, dan tak terkecuali di Minangkabau sendiri. Stigma bahwa perempuan perannya hanyalah di dapur, kasur, dan sumur, telah merenggut hak-hak kaum perempuan akan kebebasan dirinya sebagai manusia yang juga memiliki kebebasan dan impian yang ingin digapainya di masa depan.


Pembedaan serta pembagian kerja antara laki-laki dan perempuan memang sudah ada sejak ribuan tahun lalu. Akibatnya, pembagian-pembagian kerja yang seperti itu sudah dianggap biasa oleh masyarakat. Hal demikian dianggap lazim dan alamiah yang tidak perlu lagi diperdebatkan, ataupun dipertanyakan. Apakah pembagian seperti itu sudah adil atau belum, ataukah siapa yang diuntungkan dengan pembagian-pembagian kerja seperti itu.

Walaupun banyak kaum perempuan beranggapan bahwa antara laki-laki dan perempuan itu memiliki nilai yang sama.
Belbagai perbedaan psikologis antara laki-laki dan perempuan, yang kemudian juga melahirkan anggapan tentang pembagian peran, sebenarnya tercipta oleh lingkungan itu sendiri. Hal demikian juga pada akhirnya menimbulkan polemik akan gugatan kepada ketimpangan kesalingan, antara laki-laki dan perempuan dalam berbagai sisi kehidupan, baik dalam ranah domestik maupun ranah publik. Yang hari ini menimbulkan gugatan akan kesetaraan gender antara laki-laki dan perempuan.


Berbagai fenomena-fenomena ketidakadilan peran antara laki-laki dan perempuan ini, juga menimbulkan berbagai polemik akan psikologis seorang perempuan. Kondisi dimana perempuan menjadi ketergantungan dengan laki-laki di rumah tangga. Perempuan secara ekonomis tak mampu manghasilkan keuangan sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Disebabkan waktunya dihabiskan hanya untuk mengurus rumah tangga dan anak-anaknya. Perempuan seolah-olah dipenjarakan di suatu dunia yang tidak merangsang perkembangan dan kemajuan untuk dirinya sendiri. Mereka hanya menghabiskan semua waktunya dengan pekerjaan-pekerjaan yang monoton setiap harinya, serta relasinya yang juga sangat terbatas sekali.


Perbedaan gender antara laki-laki dan perempuan semestinya tidaklah menimbulkan permasahan, sepanjang hal demikian tidak menghasilkan ketidakadilan gender. Tapi realitasnya hari ini perbedaan tersebut telah menciptakan ketidakadilan, terutama bagi kaum perempuan.


Budaya patriarki di tengah-tengah masyarakat kita, memang memilki sejarah yang sangat panjang, yang di awali dengan dominasi kaum laki-laki terhadap perempuan, yang memang sudah dibangun atas dasar tatanan nilai yang timpang. Tatanan nilai yang memposisikan laki-laki sebagai mahluk superior dihadapan perempuan yang dianggap lemah atau imferior. Tatanan nilai yang sudah mengakar sejak dulunya, bahkan dari kalangan perempuan itu sendiri. Bukan berarti kita memakluminya saja tanpa harus mengkaji ulang semu hal tersebut.
Berbicara feminisme memang merupakan barang baru di Indonesia, yang dianggap sebagai “produk barat” yang menjadi pro kontra dalam penerapannya. Apalagi jika hal demikian diterapkan di masyarakat Minangkabau. Minangkabau adalah sebuah daerah yang berada di pulau Sumatera, yang saat ini lebih populer dengan Sumatera Barat. Masyarakat Minang sendiri memiliki sistem kekerabatan yang dikenal sistem matrilineal atau sistem kekerabatan menurut garis keturunan ibu.
Menurut Dr. Raudah Thaib seorang budayawan yang berasal dari Sumatera Barat, dalam diskusinya perihal memahami sistem matrilineal di Minagkabau, menyatakan bahwa perempuan di Minangkabau itu diperbolehkan untuk memasuki wilayah publik dan tidak hanya dikurung dalam ranah-ranah domesti saja.

dalam sejarah kerajaan Minangkabau tersebut pernah pernah dipimpin oleh raja perempuan yang bernama “Bundo Kanduang” yang kemudian hari ini menjadi rule model bagi perempuan Minang dalam menjalankan aktivitas kehidupannya. Dan di Minangkabau sendiri ada tiga posisi yang tidak boleh diisi oleh perempuan yaitu; pertama, Manti (pemimpin adat), kedua, Malin, (pemimpin agama), ketiga, Dubalang (pemimpin keamanan suku). Dan selain dari itu maka perempuan Minang diperbolehkan untuk berkiprah dan menempati posisi apa saja

Nuraini Zainal

Dampak Buruk Kecanduan Medial Sosial Dan Cara Mengatasinya

Previous article

Jangan Berlebihan dalam Beragama Islam!

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Opini