Redaksi-Duta Damai Sumbar, Tim Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri berhasil meringkus Zulkarnaen yang merupakan panglima Askari alias tentara Jamaah Islamiyah (JI). Pria yang memiliki beberapa nama antara lain Aris Sumarsono alias Daud alias Zaenal Arifin alias Abdulrahman itu teridentifikasi juga terlibat dalam Bom Bali I pada 2002.

Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono menjelaskan Zulkarnaen ditangkap di Kabupaten Lampung Timur, Lampung, pada Kamis (10/12) pukul 19.30 WIB. Dia ditangkap tanpa perlawanan.

Saat bom Bali 1, Zulkarnain merupakan panglima Askari (tentara) Jamaah Islamiyah.

Menurut Argo Zulkarnain merupakan orang yang membentuk unit khos yang dalam struktur Jamaah Islamiyah atau satu unit tentara khusus yang terlibat dalam konflik agama di Poso, Sulawesi Tengah di tahun 2000 silam dan konflik bernuansa SARA di Ambon tahun 2011 yang lalu.

Tidak hanya itu, Argo mengungkap, pria yang merupakan lulusan Fakultas Biologi ini juga menyembunyikan Upik Lawanga, ahli perakit bom yang disebut oleh kalangan mereka sebagai profseor karena kepintaranya merakit bom berdaya ledak tinggi.

Tim Densus 88 telah menggeledah rumah Zulkarnaen. Saat ini Zulkarnaen juga masih diperiksa secara intensif.

Zulkarnaen dikenal sebagai tokoh sentral Jamaah Islamiyah yang terlibat dalam serangan bom Bali. Dilansir lewat detik.com pada 2004, polisi pernah menggelar sayembara dengan hadiah Rp 500 juta bagi pihak yang memberi informasi terkait keberadaan Zulkarnaen.

Zulkarnaen lahir pada 1963 di Desa Gebang, RT 12, RW 6, Masaran, Sragen. Dia mempunyai lima orang anak dari hasil pernikahannya dengan Rahayu ningtyas.

Dia mengenal istrinya saat menjadi santri di Pesantren Al-Mukmin, Ngruki, Sukoharjo. Dia menjadi santri sejak lulus dari SDN Gebang II hingga tamat madrasah aliyah (MA).

Setamat dari Al-Mukmin, dia melanjutkan belajar di Jurusan Biologi UGM, Yogyakarta, namun tidak tamat. Semenjak itu, para tetangganya di Gebang mengaku jarang melihat Zulkarnaen.

Haris Santoso, adik ipar Zulkarnaen, yang tinggal serumah dengan Rahayu ningtyas di Ngruki, juga mengaku bahwa semenjak jadi buron, kakak iparnya itu tidak pernah mengirim kabar.

Haris cuma tertawa saat diberi tahu bahwa kakak iparnya kini ‘dihargai’ Rp 500 juta. Dia enggan memberikan komentar mengenai sayembara itu.

“Nanti saja komentarnya. Mbak Ning (istri Zulkarnaen) juga belum tahu kabar tentang sayembara itu. Saya akan memberi tahu dia dulu, biar tidak kaget kalau dengar berita,” papar Haris kepada detik.com, Rabu (15/9/2004) silam.

Zulkarnaen disebut-sebut memiliki kemampuan lengkap, mulai merakit bom, ahli fisika (untuk meramalkan efek ledakan), dan ahli kimia untuk menciptakan bahan-bahan bom, termasuk kemampuan merekrut pengikut, sehingga figurnya sangat di tokohkan.

Gusveri Handiko
Blogger Duta Damai Sumbar Tamatan Universitas Andalas Padang Menulis Adalah Salah Satu Cara Untuk Berbuat Baik

    Menolak Keajaiban ” Toleransi dan Perdamaian”

    Previous article

    Memangkas Intoleransi dan Menumbuhkan Perdamaian di Kalangan Millenial, Caranya Bagaimana?

    Next article

    You may also like

    Comments

    Leave a reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    More in Berita