Edukasi

Bahasa Indonesia Sebagai Jembatan Pengenalan Bahasa dan Budaya Nagari Limbanang Kabupaten Lima Puluh Kota ke Negeri Gajah Putih Thailand

0

By: Ado Putri Adela


“Kami putra putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan bahasa Indonesia”, ikrar ketiga sumpah pemuda 1928 ini menyatakan dengan sangat jelas bahwa bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan yang berkedudukan sebagai bahasa pemersatu bangsa. Hal tersebut kembali dijelaskan pada Undang-undang Dasar tahun 1945 Bab XV yang menyatakan bahwa “Bahasa Negara ialah Bahasa Indonesia.”

Kedudukan bahasa Indonesia berada di atas bahasa-bahasa daerah, oleh karena itu sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai warga negara untuk meningkatkan martabat bahasa Indonesia itu sendiri agar bahasa Indonesia terus berkembang hingga ke mancanegara.
Fungsi bahasa terangkum dalam peribahasa klasik yaitu “bahasa menunjukkan bangsa”. Dalam konteks kehidupan, bahasa Indonesia memiliki kedudukan yang sangat sakral yaitu sebagai identitas bangsa karena bahasa akan mencerminkan nilai-nilai kehidupan di masyarakat.

Bahasa dan pikiran dapat menjadi cerminan budaya dan budaya sebagai dasar nilai kebangsaan. Dalam hal ini, bahasa Indonesia memiliki peran dalam menjembatani masyarakat dalam berinteraksi satu sama lain, juga untuk menjadi titik temu dalam berkomunikasi di antara bahasa-bahasa daerah yang ada di Indonesia.


Bangsa Indonesia merupakan masyarakat yang multilingual (yaitu dapat menguasai lebih dari satu bahasa di antaranya bahasa Indonesia, bahasa daerah dan bahasa asing). Bahasa merupakan salah satu objek kajian sosiolinguistik yang memiliki kekuatan sangat besar dalam perspektif budaya dalam masyarakat. Bahasa dapat kita lihat tidak hanya sebagai pemersatu bangsa, identitas bangsa, atau media untuk berkomunikasi saja, melainkan sebagai alat dan media untuk meninjau kembali sejarah hubungan bahasa Indonesia dengan bahasa yang di gunakan masyarakat Asia Tenggara terkhususnya bahasa Melayu.


Berawal dari zaman dahulu, bahasa Melayu yang digunakan oleh masyarakat Asia Tenggara khususnya masyarakat Indonesia untuk menjalin hubungan maupun untuk bekerja sama satu sama lain. Ada beberapa negara yang juga menggunakan bahasa Melayu selain Indonesia, di antaranya Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, dan Thailand bagian selatan sebagai alat komunikasi pemersatu dalam segala hal. Namun, seiring berjalannya waktu, bahasa terus berkembang, hingga ditemukan beberapa kesamaan pola komunikasi masyarakat Indonesia dengan tindak tutur masyarakat Pattani, Thailand (Melayu Pattani), hingga memperjelas bahwa penggunaan bahasa memiliki kaitan yang sangat erat satu sama lain.


Jika kita melihat kembali sejarah aksara dan bahasa, maka semua masyarakat di dunia memiliki keterkaitan dari segi semantik, morfologi, fonologi, sintaksis, semantik pada daerah-daerah tertentu. Misalnya, bahasa Minangkabau jika dicari persamaannya secara semantik dan fonologi, terdapat persamaan bahasa yang digunakan oleh masyarakat Thailand, khususnya Thailand bagian selatan yang memiliki keterkaitan yang cukup erat.
Hal ini mengingatkan penulis pada pengalaman belajar di Fatoni University, Thailand. Berdasarkan pengamatan terdapat kekerabatan yang sangat erat antara penggunaan bahasa mahasiswa Minangkabau dengan tindak tutur mahasiswa maupun dosen yang berasal dari Thailand bagian selatan selatan (Narathiwat, Yalla, Pattani, dan Songkla), yang mana mayoritas masyarakat Thailand bagian selatan menjadikan bahasa Thailand sebagai pengantar dan bahasa Melayu Pattani- Thailand sebagai bahasa sehari-hari.


Bahasa Melayu Pattani-Thailand yang memiliki keterkaitan dengan bahasa Minangkabau secara fonologi di antaranya hampir semua huruf vokal [a] di belakang kata akan berubah menjadi [o] serupa dengan fonologi yang berasal dari Minangkabau. Berikut kata yang memiliki persamaan semantik dan fonologi antara bahasa Melayu Pattani-Thailand dengan bahasa Minangkabau di antaranya, samo, ado, mano, biaso, telingo, mato, lupo, dan sajo. Bukan hanya bunyi secara pengucapan yang sama persis dengan bahasa Minangkabau, kata-kata tersebut juga memiliki makna yang serupa pada bahasa Melayu Pattani-Thailand dengan bahasa Minangkabau.


Hal inilah yang menjadi latar belakang pengenalan bahasa dan budaya Minangkabau, serta keunikan budaya ke negeri Gajah Putih, Thailand. Tentunya, pada kesempatan mengenal dan mengetahui persamaan bahasa yang ada dalam kegiatan belajar di Fatoni University, dapat menjadi peluang yang sangat besar bagi penulis untuk memperkenalkan kekayaan Minangkabau itu sendiri, khususnya bahasa dan budaya yang ada di kenagarian Limbanang, kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Indonesia kepada mancanegara.


Di samping persamaan yang ada antara bahasa Indonesia dengan bahasa Melayu Pattani-Thailand, generasi muda memiliki tanggung jawab yang besar untuk melestarikan dan mengenalkan bahasa daerah hingga dikenal ke mancanegara. Penulis mengutip dalam buku Morfologi Bahasa Indonesia dan Nusantara (2019) karya Marsono, bahasa daerah merupakan warisan dari nenek moyang dan menjadi salah satu kekayaan budaya nasional. Maka, kita sebagai penerus dan ujung tombak dari warisan budaya ini sepatutnya paham dan dapat merealisasikan sebagaimana bahasa itu terus maju dan berkembang, serta tidak tertinggal oleh zaman, apalagi bahasa kekinian sudah mulai ikut andil dalam bahasa daerah itu sendiri.


Dari permasalahan yang telah dipaparkan di atas, penulis memiliki program “filosofi kartu literasiku” sebagai suatu cara untuk mempertahankan kekayaan tersebut. Dengan adanya program ini, penulis berharap kekayaan yang ada dalam bahasa terus menerus berkembang dan ikut andil dalam berbagai kegiatan, sehingga bahasa tidak dapat digerus oleh perkembangan zaman. Selain itu, penulis juga ingin mengajak generasi muda dalam mengkaji persamaan bahasa Minangkabau khususnya di kenagarian Limbanang, kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, baik secara morfologi, fonologi, sintaksis, dan semantik dengan bahasa Melayu Pattani-Thailand. Sebagai generasi muda, sudah menjadi tugas kita untuk mengkaji dan memahami konsep dasar pada bahasa itu sendiri agar terus berkembang dan ikut bergengsi bahkan sampai ke mancanegara sekalipun.

dutadamaisumbar

Idul Fitri Perekat Persaudaran

Previous article

Aku Bukan Tuhan

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Edukasi