Salah satu bentuk kekerasan fisik dan emosional yang paling umum pada anak-anak dan remaja adalah perundungan atau bullyingBullying di kalangan remaja adalah masalah global dan diketahui secara luas berdampak negatif pada para korban. Bullying mengacu pada penindasan atau perilaku agresif dengan niat untuk menyakiti atau menyalahgunakan orang lain dalam tindakan berulang dan melibatkan ketidakseimbangan kekuatan. Penindasan yang terjadi di lingkungan sekolah membutuhkan perhatian yang lebih besar karena sekolah adalah tempat bagi remaja untuk melakukan proses pembelajaran formal dan, oleh karena itu, mempengaruhi kualitas hidup untuk generasi mendatang.

Indonesia adalah salah satu negara yang diduga masih mengalami angka kejadian bullying cukup tinggi, seperti perilaku intimidasi di kalangan remaja, meskipun data akuratnya masih belum diketahui. Sebanyak 40% remaja telah diintimidasi di sekolah dan 32% melaporkan bahwa mereka telah menjadi korban kekerasan fisik. Hasil survei Kementerian Sosial Indonesia pada tahun 2013 menunjukkan bahwa satu dari dua remaja pria (47,45%) dan satu dari tiga remaja wanita (35,05%) dilaporkan mengalami intimidasi. Data lebih lanjut dari Survei Kesehatan Siswa berbasis Sekolah Global (Global School-based Student Health Survey/GSHS) 2015 menunjukkan bahwa 24,1% remaja pria dan 17,4% remaja wanita telah mengalami intimidasi.

Beberapa penelitian telah menyoroti faktor-faktor berikut yang berhubungan dengan bullying: faktor demografi, faktor sosial, faktor gaya hidup dan kondisi hidup dan kerja. Penelitian sebelumnya di Indonesia melaporkan bahwa bentuk intimidasi yang paling banyak dialami oleh remaja adalah intimidasi verbal. Terlepas dari meningkatnya prevalensi remaja yang diintimidasi di Indonesia, hanya sedikit yang diketahui tentang faktor-faktor apa yang mempengaruhi individu yang menjadi korban intimidasi menggunakan data nasional. Memahami faktor individu dapat membantu mengenali situasi nyata yang dihadapi oleh remaja yang diintimidasi.

Bullying mencakup berbagai bentuk intimidasi verbal, sosial, dan fisik. Ini termasuk tindakan buruk dan tidak menyenangkan oleh seorang siswa atau sekelompok siswa kepada siswa lain yang tidak berdaya, seperti menghina, terlalu banyak menggoda dengan cara yang buruk, memukul atau meninggalkan seseorang dengan sengaja.

Korban bullying (19,9%) dilaporkan di kalangan remaja Indonesia di sekolah. Faktor usia, jenis kelamin, alkohol, merokok, dan kesepian menunjukkan hubungan positif dengan kejadian bullying. Meningkatkan kesadaran publik tentang tindakan intimidasi dan pencegahan di kalangan siswa, remaja lain, orang tua atau keluarga, serta masyarakat pada umumnya harus dipromosikan. Berfokus pada membangun lingkungan anti-intimidasi di sekolah mungkin berguna untuk mengurangi prevalensi intimidasi. Intervensi yang tepat perlu dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan program anti-intimidasi diimplementasikan di semua sekolah.

Gita Ivani Gresela Waruwu

Apakah kamu seorang Duck Syndrome?

Previous article

Masalah Kesehatan Remaja Di Indonesia

Next article

You may also like

Comments

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

More in Edukasi